Coba jawab jujur: kalau ditanya, "Apa tiga hal yang paling kamu sukai di dunia ini?", apa yang akan keluar dari mulutmu? Mungkin liburan, gaji naik, atau rebahan tanpa gangguan notifikasi. Wajar, kita manusia biasa.
Sekarang bandingkan dengan jawaban seorang sahabat Nabi yang kekayaannya nyaris legendaris. Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu pernah berkata, kurang lebih: "Tiga hal yang aku sukai di dunia ini: memberi makan orang yang lapar, memberi pakaian orang yang tidak punya pakaian, dan membaca Al-Qur'an."
Perhatikan, tidak ada rumah megah, kebun luas, atau saldo yang bikin senyum-senyum sendiri. Padahal beliau salah satu saudagar terkaya di Madinah.
Orang Kaya yang Hartanya "Bergerak"
Utsman dikenal sebagai Dzun Nurain, pemilik dua cahaya, karena menikahi dua putri Rasulullah ï·º. Tapi julukan yang tak kalah pantas untuknya adalah "orang kaya yang hartanya tidak pernah diam".
Ketika kaum muslimin kesulitan air bersih di Madinah, beliau membeli sumur Raumah dan mewakafkannya. Ketika Rasulullah SAW menyiapkan pasukan untuk perang Tabuk yang berat, Utsman menyumbang perlengkapan dalam jumlah besar. Pada masa paceklik, saat kafilah dagangnya tiba dan para pedagang menawar dengan untung berlipat, beliau memilih membagikan muatan itu kepada orang-orang yang membutuhkan, karena Allah menjanjikan balasan yang jauh lebih besar.
Jadi ketika beliau bilang suka memberi makan dan pakaian, itu bukan kalimat indah di atas kertas. Itu kebiasaan hidup.
Kenapa Makan dan Pakaian
Dua hal ini adalah kebutuhan paling dasar manusia. Lapar dan tidak punya baju layak itu urusan harga diri, bukan sekadar perut dan kain. Orang yang lapar sulit berpikir jernih, sulit beribadah dengan tenang, dan sering kali terpaksa menahan malu.
Allah memuji hamba-Nya yang memberi makan dengan tulus. Dalam surah Al-Insan ayat 8 dan 9, orang-orang baik digambarkan memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan, sambil berkata bahwa mereka melakukannya semata-mata karena Allah, tanpa mengharap balasan atau ucapan terima kasih.
Bagian inilah yang sering terasa berat. Tanpa mengharap ucapan terima kasih, memaksa kita untuk benar-benar tulus dalam memberikan bantuan. Wajar bila kita memberi, lalu diam-diam berharap dikenang, di-tag, atau minimal dibilang dermawan. Utsman mengajarkan bahwa memberi itu bukan kegiatan yang perlu tepuk tangan. Memberi adalah kesenangan itu sendiri.
Lalu, Kenapa Al-Qur'an?
Menarik, bukan? Dua hal pertama berurusan dengan perut dan badan orang lain, lalu yang ketiga langsung melompat ke Al-Qur'an. Ternyata keduanya saling menyempurnakan. Memberi makan merawat jasad sesama, membaca Al-Qur'an merawat ruh kita sendiri. Ibadah sosial dan ibadah personal berjalan beriringan, tidak perlu dipilih salah satu.
Utsman memang akrab dengan Al-Qur'an. Beliau terkenal sering mengkhatamkannya, bahkan dikisahkan membaca banyak ayat dalam shalat malamnya. Beliau juga yang memimpin penyatuan mushaf agar umat tidak berselisih tentang bacaan, sehingga kita mengenal istilah Mushaf Utsmani. Jadi kalau hari ini kita bisa membaca satu mushaf yang seragam dari ujung dunia ke ujung dunia, ada jasa besar beliau di sana.
Hadis yang beliau riwayatkan sendiri pun berbunyi, "Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya" (HR. Bukhari). Seolah beliau memang hidup menurut sabda itu.
Kita, di Zaman yang Serba Cepat
Mungkin kita berpikir, "Saya kan bukan konglomerat." Betul, tapi coba lihat ulang. Memberi makan tidak harus berupa jamuan besar. Sebungkus nasi untuk tukang parkir, kiriman makanan untuk tetangga yang sedang sakit, atau menyisihkan sedikit di akhir bulan untuk dapur umum, semuanya bernilai. Memberi pakaian pun tidak harus membeli baru. Lemari yang penuh baju layak pakai tapi jarang dipakai itu "harta tidur" yang bisa dibangunkan.
Soal Al-Qur'an, kita sering bilang sibuk. Padahal waktu untuk menggulir layar ponsel ternyata ada saja. Mungkin bukan kita tidak punya waktu, tapi belum menjadikannya hal yang kita sukai. Dan di situlah poin kalimat Utsman: sukai, bukan sekadar lakukan. Ibadah yang dicintai itu terasa ringan, dirindukan, dan dicari-cari kesempatannya.
Latihan Kecil Hari Ini
Tidak perlu menunggu kaya seperti Utsman untuk memulai. Cukup tiga langkah kecil:
• Satu bungkus makanan untuk orang yang membutuhkan hari ini.
• Satu pakaian layak yang Anda sisihkan untuk disalurkan.
• Satu halaman Al-Qur'an, dibaca pelan, dengan hati yang hadir.
Kecil, tapi kalau dijaga terus-menerus, ia menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan yang dicintai pelan-pelan membentuk karakter, seperti karakter seorang sahabat yang dijuluki pemalu tapi dermawan, lembut tapi teguh.
Dunia ini sering menawarkan banyak hal untuk disukai, dan hampir semuanya berhenti di kita sendiri. Utsman memilih tiga hal yang manfaatnya mengalir, perut orang lapar yang menjadi kenyang, tubuh yang terlindungi, dan hati yang terhubung dengan firman Allah.
Semoga kita dimudahkan menyukai hal-hal yang sama. Karena pada akhirnya, yang kita bawa pulang bukan apa yang kita simpan, melainkan apa yang kita berikan dan apa yang kita baca dengan cinta.
Wallahu a'lam bish-shawab.


