PPCBlogger

Bebas Bayar

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Showing posts with label Sedekah. Show all posts
Showing posts with label Sedekah. Show all posts

Meraih Kebahagian Hakiki



 مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ


”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, adalah serupa engan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui”. (QS. Al-Baqarah : 261)

Nabi pernah berpesan, seandainya kamu tahu bahwa hidup tinggal beberapa hari saja, kemudian kamu menemukan bibit buah-buahan maka tanamlah, walaupun mungkin kamu tidak akan sempat memanennya.

Adab Adab Memberi Dan Menerima Hadiah

Gambar dari google
Hadiah biasa diberikan sebagai bukti rasa cinta dan bersihnya hati. Ketika saling memberi hadiah ada kesan penghormatan dan pemuliaan satu sama lain. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerima hadiah, dan menganjurkan untuk saling memberi hadiah serta menganjurkan untuk menerimanya.

Al Imam Al Bukhari telah meriwayatkan hadits di dalam Shahihnya, dan hadits ini memiliki hadits-hadits pendukung yang lain. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerima hadiah dan membalasnya.”

Carilah Kesembuhan Dengan Sedekah

KISAH SEDEKAH PENDERITA LIVER AKUT UNTUK SEORANG WANITA DAN 3 (TIGA) ANAKNYA

Kisah nyata seorang hartawan berkebangsaan saudi bernama Ra'fat. Ia berobat kesana kemari demi mencari kesembuhan, lantaran liver akut yang diderita.

Banyak dokter dan rumah sakit yang sudah ia kunjungi di Saudi Arabia, namun kesembuhan nya tak kunjung didapat. Ra'fat mulai mengeluh. Badan nya kian kurus, layaknya seorang pesakitan. Saran dokter ia harus berobat ke rumah sakit spesialis liver di Guangzhou, China.

Niat Baik Saja Sudah Dicatat Satu Kebaikan



Sudah beberapa waktu lalu ingin menuliskan tentang hal ini. Ya, mungkin sudah banyak yang tau tentang balasan berniat baik. Seperti yang saya tulis pada judul postingan di atas. Niat baik saja sudah dicatat satu kebaikan atau diberikan satu pahala.

Kisah ini sudah berulang saya alami. Tepatnya beberapa pecan yang lalu. Awalnya hanya menawarkan untuk makas siang bareng salah satu teman. Saya kirim SMS seperti biasa kepadanya. “Boy, ayo iuran, makan siang”. Maksudnya mengajak iuran untuk makan siang bareng. (meski sebenarnya saya kirimkan pesan singkat itu dengan bahasa jawa).

Karena ada sedikit salah pengertian, dia menjawab “Ayo..”. Segera setelah sholat dluhur, saya meluncur ke tempatnya kerja. Sampai disana, dia malah mengajak ke masjid untuk sholat. Karena penangkapan dia tadi saya mengajak untuk wudlu. Sedangkan dia sendiri sedang puasa sunnah. Karena kebetulan hari itu adalah hari kamis.

Huft, jadi sedikit kesal. Akhirnya saya tidak jadi makan siang bareng dengan teman saya tadi. Dan kahirnya sayapun tak jadi makan pada siang itu.

Sore menjelang ketika saya sampai di rumah. Usai membersihkan diri, saya langsung bercengkrama dengan si kecil. Maklum, anak baru satu dan lagi lucu-lucunya karena usianya yang baru satu tahunan.

Baru beberapa saat menggendong si kecil, ada seseorang dengan sepeda motor menuju rumah kecil kami. Dan sungguh tidak disangka-sangka, seorang teman dengan membawa empat buah durian yang lumayan besar-besar. Belum sempat turun dari motornya, dia menanyakan suka makan durian atau nggak. “Mas, suka makan durian atau gak mas?” Kemudian dia turun dan membawa empat buah durian itu ke dalam rumah.

Akhirnya, saya, istri saya, teman saya dan termasuk si kecil makan durian sore itu. Hmm.. nyammi pokoknya deh. Sungguh tak menyangka akan ada yang mengirim durian ke rumah. Namun, saya kembali berfikir, apakah hal itu hanya sebuah kebetulan saja? Atau memang ada sebuah hubungan sebab dan akibat dari apa yang sudah kita kerjakan sebelumnya?

Kemudian saya kembali berfikir, apakah hal ini adalah sebuah akibat dari niat baik saya untuk mengajak makan siang bareng kepada teman saya beberapa waktu sebelumnya? Ya, tentunya hal itu hanya sebuah dugaan saja.

Sebuah kejadian serupa juga baru saja terulang. Sebuah SMS saya kirimkan kepada seorang teman. “Nang, ayo makan siang”. Karena waktu sholat sudah mendesak, maka saya tak sempat membaca SMS balasannya. Saya pun segera sholat berjamaah di masjid.

Selesai mengikuti sholat berjamaah di masjid, saya baru membuka SMS balasan darinya. “Aku punya lele mas, ke mess saja makan siang di sini” tulisnya. Sayapun meluncur ke mess di tempat kerjanya. Selang beberapa menit menunggu dia sholat dluhur, akhirnya saya makan siang bareng dia dengan lele yang… hmm nyammi…

Saya pun kembali teringat dengan salah satu hadits Rasulullah SAW tentang balasan satu niat kebaikan. Hadits tersebut sebagaimana saya kutip berikut ini :
Dari Ibnu Abbas ra. dari Rasulullah SAW dari apa yang beliau riwayatkan dari Robbnya tabaaroka wa ta’ala beliau berkata: “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan kebaikan dan keburukan kemudian menjelaskannya. Barang siapa yang berkeinginan untuk berbuat kebaikan kemudian dia tidak melakukannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia berkeinginan melakukan kebaikan kemudian ia melakukannya, Allah mencatat untuknya 10-700 kali lipat kebaikan sampai tidak terhingga. Jika dia berkeinginan untuk melakukan kejelekan kemudian dia tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika dia berkeinginan melakukannya, kemudian dia melakukannya maka Allah mencatat baginya satu kejelekan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jelas sekali dari hadits di atas bahwa apa yang kita niatkan sudah dicatat sebagai satu amal kebaikan. Dan tak menutup kemungkinan akan mendapat balasan langsung dari Allah. Tak perlu menunggu lama, tak perlu menunggu di hari perhitungan dan pembalasan.

Buktinya adalah apa-apa yang kita alami sehari-hari. Tentunya dengan sedikit perenungan. Karena tanpa melalui perenungan, maka hati kita akan menjadi keras. Merenung tentang kurangnya amal ibadah kita tentu lebih utama. Apa-apa yang kita alami bukanlah semata-mata sebuah kebetulan semata. Melainkan adalah sebuah hubungan sebab akibat yang saling terhubung dan berkaitan.

Satu hadits lainnya tentang keutamaan niat adalah tentang keikhlasan dalam niat, sebagaimana dalam kutipan berikut :
 "Dari Amirul Mukminin, Umar bin Khatthab radhiallahu 'anhu, beliau berkata: Sesungguhnya seluruh amalan itu bergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya menuju keridhaan Allah dan rasul-Nya. Barang siapa yang berhijrah karena mencari dunia atau karena ingin menikahi seorang wanita, maka hijrahnya tersebut kepada apa yang dia niatkan." (HR. Bukhari no. 1, Muslim no. 155, 1907)

Kini saatnya kita untuk terus menata niat baik kita agar apa yang kita lakukan akan mendapatkan keridhaan Allah SWT. Niat untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan amal ibadah. Semoga kita diberikan kekuatan untuk melakukannya. Amiin.

Wallahua’lam.

Berhutang Untuk Sedekah?



Sebelumnya sempat bingung juga tentang masalah ini. Ingin bersedekah, tetapi masih banyak menanggung hutang. Bolehkah kita bersedekah dengan menggunakan harta dari hutang. Bolehkah kita bersedekah dari hutang?

Setelah melakukan pencarian dengan berselancar di beberapa site, ada beberapa petunjuk yang bisa menjadi pedoman. Dari situs almanhaj dalam rubrik Tanya-jawab, memberikan keterangan tentang hal ini.

Disebutkan bahwa membayar hutang itu hukumnya lebih tinggi dari pada sedekah. Membayar hutang itu wajib, sedangkan sedekah itu sunnah. Sehingga lebih utama membayar hutang yang wajib dari pada bersedekah yang hukumnya sunnah.

Namun demikian para ulama berselisih pendapat akan hal ini. Sebagian mengatakan bahwa sedekah yang dilakukan disaat menanggung hutang itu dilarang. Karena tentunya hal itu akan memberatkannya, dan akan berakibat buruk terhadapnya. Tetapi sebagian yang lain menyatakan bahwa itu boleh dilakukan, namun dia termasuk menentang hal yang lebih utama.

Lantas, apakah kita tidak boleh bersedekah di saat menanggung hutang? Tentu saja masih boleh. Bersedekahlah, selama kita masih mempunyai keyakinan akan kemampuan untuk membayar hutang.

Yang jelas, mengabaikan atau dengan sengaja tidak membayar hutang adalah dosa. Karena seperti disebutkan di atas, bahwa membayar hutang adalah wajib. Tetapi ketika kita berkeyakinan bahwa Allah akan memlipatgandakan harta yang disedekahkan, maka kita tetap diperbolehkan bersedekah. Dengan catatan bahwa kita tidak mengabaikan hutang kita. Kemudian kita tetap mengupayakan untuk dpat melunasi hutang-hutang kita.
Hal ini pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Pada suatu hari seorang pria mendatangi Rasulullah yang sedang bersama-sama dengan para sahabatnya. Seorang pria itu meminta bantuan kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah SAW bersabda : “Saat ini aku tidak memiliki apa-apa. Akan tetapi, belilah barang kebutuhanmu atas namaku, nanti akan kubayar ketika akan mendapatkan harta.”
Mendengar ucapan beliau Saw. maka Sayyidina Umar berkata: “Duhai Rasulullah, Allah memaksakanmu untuk melakukan sesuatu ketika engkau tidak mampu”.

Rasulullah kurang senang mendengar ucapan Sayyidina Umar tersebut. Maka pada saat itu juga seorang sahabat Anshar berkata kepada beliau: “Duhai Rasulullah, berdermalah dan jangan pernah merasa khawatir, Allah yang memiliki ‘Arsy tidak akan membuatmu kekurangan.

Rasulullah pun tersenyum dan wajahnya nampak bahagia mendengar ucapan sahabat Anshar tadi. Beliau SAW kemudian berkata, “Aku memang diperintahkan untuk berbuat seperti ini.” (HR. Tirmidzi dalam kitabnya asy-Syamâ’il).

Nah, sekarang jelaslah sudah. Tak ada keraguan lagi untuk terus bersedekah dalam keadaan bagaimanapun. Niatkanlah untuk membantu sesama dan mencari keridhaan Allah semata. Wallahua’lam.